Siapa yang tidak tahu tentang Nabi Muhammad SAW? Kisah Rasul yang penuh dengan hikmah ini bukan hanya menjadi bacaan saja, tetapi juga dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari
Kisah Nabi Muhammad SAW mengandung banyak pengajaran yang bisa dijadikan teladan untuk kita semua. Selain perjuangan beliau dalam menyebarkan agama Islam, kitajuga perlu meneladani kisah hidupnya yang penuh cobaan namun tetap dijalani beliau dengan sabar.
Kelahiran Nabi Muhammad SAW
Nabi Muhammad SAW lahir dari pasangan Abdullah bin Abdul Muthalib dan Aminah binti Wahab. Sayangnya, ayah beliau Abdullah meninggal ketika Nabi Muhammad masih berada dalam kandungan sang ibu. Jadi, dia telah menjadi yatim bahkan sebelum dilahirkan.
Rasulullah SAW lahir di Tahun Gajah yaitu tahun di mana pasukan gajah yang dipimpin oleh Abrahah Habasyah yang tengah ingin merobohkan Ka’bah. Dengan kebesaran-Nya, Allah SWT menghentikan pasukan ini dengan mengirimkan burung-burung ababil untuk menjatuhkan batu-batu yang membawa wabah penyakit. Ini adalah ayat di Al-Quran, Surat Al Fil yang berarti pasukan gajah.
Di tahun inilah, Nabi Muhammad SAW lahir di Makkah dan dibesarkan sebagai anak yatim karena Abdullah, ayah Nabi Muhammad, wafat sebelum Nabiullah SAW lahir. Beberapa tahun setelah menghabiskan waktu dengan izin, Aminah, Nabi Muhammad SAW kemudian dibesarkan oleh kakeknya yaitu Abdul Muthalib.
Sayangnya, umur kakeknya pun hanya sebentar. Setelah dua tahun dibesarkan oleh kakeknya, Abdul Mutholib meninggal pada zaman Nabi yang kedelapan dan Nabi diasuh oleh pamannya Abu Thalib. Abu Thalib dikenal dengan orang yang dermawan. Hanya memalsukan atau tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari. Hanya dengan kondisi tersebut, Nabi Muhammad SAW dapat berkembang dan tumbuh dengan pamannya.
Nabi Muhammad SAW Meraih Wahyu Pertama
Sebelum menjadi Rasulullah, Nabi Muhammad SAW mendapatkan beberapa karunia istimewa dari Allah seperti yang dimintakan bersih dan berhasil memenangkan sinar bulan, menumbuhkan suburban di daerah Halimah (ibu yang mengasuh Nabi) padahal tadinya gersang dan kering, dan lain sebagainya. Itulah tanda-tanda kebesaran Allah yang menandakan akan datangnya nabi yang terakhir yang memiliki kedudukan yang tertinggi yang seharusnya.
Pada saat Rasulullah ingin mendapatkan wahyuulitan, Rasul mendapatkan mimpi Malaikat Jibril menghampirinya. Rasul pun menyendiri di Gua Hira sepenuhnya di sebelah atas Jabal Nur. Disitulah Rasul diperlihatkan bahwa mimpinya adalah benar.
Malaikat Jibril pun datang kepada Rasul dan turunlah wahyu yang pertama yang ia bawakan dari Allah SWT,
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ
Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak boleh diketahuinya. “(QS. Al-‘Alaq, 1-4)
Sementara Nabi gembira, disitulah kisal rasul dimulai. Disitulah tempat datangnya Nabi yang akan membawa kedamaian untuk semua umat.
Rahasia
Setelah mendapatkan wahyu yang pertama, Nabi kemudian melakukan dakwah dengan sembunyi-sembunyi. Orang-orang yang menjadi pengikut adalah Khadijah, Abu Bakar Al-Shiddiq dan Zaid bin Haritsah, Ummu Aiman, Ali bin Abu Thalib, dan Bilal bin Rabah.
Allah Memerintahkan Dakwah secara Terang-terangan
Setelah beberapa tahun mengerjakan dakwah secara diam-diam, turunlah perintah Allah SWT dalam surat al-hijr ayat 94 dan memerintahkan Nabi untuk berdakwah secara terang-terangan.
فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرْكِينَ
Artinya: “Maka sampaikanlah olehmu yang terang-terangan untuk apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.”
Perintah Berzakat di Zaman Rasulullah
Pada zaman Rasulullah SAW di tahun pertama di Madinah itu, Nabi dan para sahabatnya segenap kaum muhajirin (orang-orang Islam Quraisy yang hijrah dari Mekah ke Madinah) masih dihadapkan untuk mencari bantuan usaha di tempat baru tersebut. Karena ini, selain memang tidak semua di antara mereka orang yang berkecukupan, kecuali Usman bin Affan, semua harta benda dan kekayaan yang mereka miliki juga ditinggal di Mekah.
Saat kondisi kaum Muslimin sudah mulai sejahtera, menantang pada tahun kedua Hijriyah, barulah kewajiban zakat diberlakukan. Nabi Muhammad SAW langsung mengutus Mu’adz bin Jabal menjadi Qadli di Yaman. Nabi pun memberikan persetujuan yang diberikan kepada pakar kitab hal, termasuk yang diberikan zakat dengan ucapan ,
“S ampaikan bahwa Allah telah mewajibkan zakat untuk harta benda mereka, yang dipungut dari orang-orang kaya dan diberikan kepada orang-orang miskin di antara mereka ,” sebagai kepala negara saat itu, mengucapkan Rasul langsung kepada para muslim tanpa bantuan.
Harta benda yang dizakati di zaman Rasulullah SAW yaitu, hewan ternak seperti kambing, sapi, unta, kemudian barang berharga seperti emas dan perak, selanjutnya tumbuh-tumbuh seperti syair (jelai), gandum, anggur kering (kismis), serta kurma. Namun kemudian, pengembangan jenis dimulai dengan sifat pengembangan pada harta atau sifat penerimaan untuk memperkembangkan pada harta itu sendiri, yang dinamakan “illat”. Berdasarkan “Illat” berdasarkan ketentuan hukum zakat.
Prinsip zakat yang mendorong Rasulullah SAW adalah meminta berbagi dan kepedulian, oleh sebab itu zakat harus mampu menumbuhkan rasa empati serta saling mendukung terhadap sesama muslim. Dengan kata lain, zakat harus mampu mengubah kehidupan masyarakat, khususnya umat muslim.
Peristiwa Isra Mi’raj
Pada tahun kesebelas era Nabi Muhammad SAW terjadi peristiwa yang diambil. Tahun ini sering disebut dengan tahun kesedihan karena pamannya Abu Thalib dan berbicara Khadijah wafat pada tahun ini.
Setelah peristiwa tersebut, Allah kemudian mengutus Malaikat Jibril untuk mendampingi Rasul untuk melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang disebut dengan Israel yang setelah itu Rasulullah melakukan perjalanan kembali dari Masjidil Aqsa ke langit ke tujuh yang disebut sebagai Mi’raj. Disitulah, Rasulullah menerima perintah sholat 5 kali yang wajib dikerjakan seluruh umat Islam.

Wafatnya Nabi Muhammad SAW
Pada saat sahabat Abu Bakar sedang tidak di Madinah, terjadi peristiwa yang sangat penting di mana Nabi Muhammad SAW wafat. Pada saat Abu Bakar mengumumkan, beliau segera datang ke rumah Aisyah. Dia memuji pidato, “Ketahulah, barangsiapa yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad kin telah mati, dan barangsiapa menyembag Allah, maka sesungguhnya Allah tetap senantiapa hidup tidak alias perna mati.”

Kemudian beliau membacakan firman Allah SWT,
إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ
Artinya: “Sesungguhnya kamu akan mati dan sungguh mereka akan mati.” (QS. Az-Zumar: 30)
Manfaatnya :
Pelajaran yang bisa diambil dari kisah Nabi Muhammad SAW ialah, beliau sejak kecil telah mengalami berbagai cobaan dan kepahitan hidup. Menjadi yatim di usia yang masih sangat belia, lalu bekerja keras untuk membantu mencari nafkah di keluarga pamannya.
Kerasnya perjuangan hidup tidak membuat Nabi Muhammad SAW menjadi orang yang sinis terhadap hidup, namun ia tetap tegar dan menjalaninya. Hingga akhirnya diangkat menjadi Nabi dan Rasul untuk menyampaikan wahyu Allah kepada umat manusia.
Mari jadikan diri kita orang yang sabar, dan tetap tegar dalam menghadapi segala cobaan dalam hidup. Dengan meneladani sikap Nabi Muhammad SAW.

Karya : Rahma Alnafaura
Kelas : IX Khansa
Tanggal Post: Rabu 9 Oktober 2019
“Hargai orang tersayang kamu yang kamu miliki saat ini,sebelum mereka meninggalkan mu untuk selama lamanya”